Bukan hanya warga yang tinggal di pengungsian, tetapi mereka yang kembali ke rumah di Aceh Tamiang juga menghadapi berbagai masalah kesehatan. Kondisi lingkungan yang berdebu pasca-bencana menempatkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) sebagai masalah kesehatan utama yang dihadapi masyarakat setempat.
“Kasus ISPA paling banyak muncul, terutama karena banyak debu yang terpapar usai banjir,” ungkap dokter Selly Famela Chasandra, seorang Tenaga Cadangan Kesehatan yang merawat warga di Desa Kaloi, Tamiang Hulu, Aceh Tamiang. Ia menerangkan bahwa dampak ini sangat terasa di kalangan masyarakat yang baru kembali ke rumah.
Selain ISPA, penyakit kulit, diare, dan dispepsia juga banyak dilaporkan. Dispepsia sendiri mencakup gejala seperti nyeri ulu hati, kembung, dan sensasi tidak nyaman lainnya yang sering mengganggu proses pencernaan.
Keluhan-keluhan pascabencana juga mulai bermunculan. Beberapa warga melaporkan cedera akibat tersandung benda tajam atau jatuh saat membersihkan sisa-sisa banjir yang telah surut.
Di antara sekian banyak cerita warga, kisah Elte (42) dari Dusun Simpang Tiga, Desa Kaloi, menjadi sorotan. Ia mengalami kecelakaan kecil saat membersihkan rumah setelah banjir reda pada akhir tahun 2025 lalu.
“Saya jatuh karena kepleset lumpur saat bersih-bersih, ikut terbentur,” kenang Elte.
Berbagai Masalah Kesehatan Pasca Banjir di Aceh Tamiang
Setelah bencana, banyak warga Aceh Tamiang yang kembali ke kehidupan normal. Namun, kenyataan itu tidak semudah yang dipikirkan, karena munculnya berbagai masalah kesehatan baru menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Kondisi lingkungan yang berubah juga memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Stres akibat kehilangan harta benda dan situasi yang tidak menentu membuat banyak orang merasa cemas dan tertekan.
Dokter Selly menambahkan, selain masalah fisik, kesehatan mental juga perlu diperhatikan dengan serius. Pengobatan untuk ISPA dan penyakit lainnya penting, tetapi dukungan psikologis juga sangat diperlukan.
Masyarakat kini harus belajar untuk hidup dengan lingkungan yang telah banyak berubah. Edukasi kesehatan menjadi kunci untuk membantu mereka memahami cara menjaga kesehatan dan mencegah penyakit di masa depan.
Pendidikan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan di komunitas sangat diperlukan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan, masyarakat dapat lebih proaktif dalam menjaga diri mereka.
Salah satu program yang diusulkan adalah pelatihan tentang cara menjaga kebersihan. Mengajarkan cara mencuci tangan dengan benar dan mengolah makanan yang higienis bisa mengurangi risiko penyakit.
Komunitas juga perlu dibekali informasi tentang tanda-tanda penyakit yang perlu diwaspadai. Edukasi mengenai gejala ISPA dan penyakit lainnya sangat penting untuk deteksi dini.
Selain pelatihan, sosialisasi mengenai manfaat vaksinasi juga harus diprioritaskan. Dengan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya vaksinasi, diharapkan angka penyakit menular dapat ditekan.
Peran Pemerintah dan Lembaga Kesehatan
Pemerintah dan lembaga kesehatan memiliki peran penting dalam penanganan pascabencana. Koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan tim medis sangat diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada.
Penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai juga harus menjadi perhatian utama. Dengan akses yang lebih baik, warga dapat dengan cepat mendapatkan perawatan saat mengalami masalah kesehatan.
Tidak hanya fasilitas fisik, tetapi juga tenaga medis yang terlatih sangat penting dalam masa pemulihan. Memberikan dukungan dan pelatihan terus-menerus bagi tenaga kesehatan lokal akan memperkuat sistem kesehatan setempat.
Sekolah-sekolah juga bisa mengambil peran dalam pendidikan kesehatan masyarakat. Dengan mengintegrasikan materi kesehatan dalam kurikulum, generasi mendatang diharapkan lebih sadar akan pentingnya kesehatan dan kebersihan.
