Keberlangsungan sungai Aek Godang di Sibolga Julu, Sumatera Utara, terancam akibat peristiwa longsor yang terjadi pada akhir November lalu. Pendangkalan yang signifikan membuat aliran sungai ini mengalami perubahan drastis, berujung pada berbagai masalah bagi masyarakat sekitarnya.
Pada tanggal 6 Desember, hasil pantauan menunjukkan bahwa permukaan air sungai surut sampai hanya setinggi betis orang dewasa. Kondisi ini disebabkan oleh material longsor yang membawa pasir, batu, dan kayu, yang mengubah bentuk alur sungai secara substansial.
Material yang terakumulasi di dasar sungai memperlebar sempadan sungai, membuat area daratan tampak lebih luas dibanding aliran air yang kini menyusut. Sementara, bagian tengah sungai terlihat seperti daratan, akibat pengisian material longsor tersebut.
Penyebab Longsor dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sekitar
Intensitas hujan tinggi yang melanda kawasan tersebut pada 25-27 November dianggap menjadi pemicu utama terjadinya longsor. Debit air yang meningkat membawa serta material longsor dari kawasan perbukitan, berakibat parah bagi aliran sungai di hilir.
Warga setempat mengamati bahwa material longsor tersebut menimbun sebagian besar dasar sungai, mengakibatkan pendangkalan yang membuat aliran air lebih rentan meluap saat hujan. Hal ini tentu menambah risiko banjir, terutama saat curah hujan tinggi.
Salah seorang warga, Sonia, menuturkan bahwa setelah peristiwa ini, sungai tersebut nyaris tidak dapat dikenali. Dalam keadaan normal, aliran sungai sangat dalam, namun kini warga dapat menyeberangi sungai dengan berjalan kaki.
Risiko Banjir dan Evakuasi Warga akibat Pendangkalan
Pendangkalan ini memiliki implikasi serius bagi keamanan masyarakat. Saat hujan deras, air sungai mudah meluap dan menyebabkan banjir, merendam jalan raya serta permukiman. Kejadian ini memicu kekhawatiran di kalangan warga, menyebabkan banyak di antara mereka memilih untuk mengungsi.
Dalam beberapa titik di sekitar sungai Aek Godang, jalan raya terendam dan rumah-rumah terpaksa digenangi air. Beberapa warga yang tinggal di daerah rawan memilih untuk mengungsi ke Aula Gereja HKBP Sibolga Julu untuk menghindari risiko lebih lanjut.
Kondisi darurat ini berlangsung cukup lama, dengan banyak warga yang tetap bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir akan banjir susulan atau kemungkinan longsor baru dari perbukitan. Mereka berharap bantuan segera diberikan agar situasi dapat dikendalikan.
Upaya Normalisasi Sungai dan Harapan Masyarakat Setempat
Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat telah melaksanakan pemantauan dan pencegahan. Warga mulai mengajukan permohonan agar normalisasi aliran sungai dilakukan dengan segera agar bencana serupa tidak terulang di masa mendatang.
Setelah hampir dua minggu berada dalam keadaan darurat, para pengungsi mulai kembali ke rumah mereka setelah hujan reda. Namun, dampak dari bencana ini masih menghantui, dengan banyak yang berharap agar tindakan preventif diambil untuk mencegah bencana serupa.
Masyarakat setempat berharap adanya perbaikan dan revitalisasi sungai yang sudah terlanjur mengalami kerusakan. Normalisasi aliran sungai dianggap sebagai langkah penting untuk mengembalikan fungsi sungai dan memberikan rasa aman bagi warga di sekitarnya.
