Memasuki era baru, generasi Z sering terjebak dalam stereotip yang berani dan penuh risiko. Namun, di balik tampilan percaya diri itu, tersimpan ketakutan yang mendalam—yaitu kematian di usia muda, yang sering kali menjadi perhatian utama.
Ketakutan ini dirasakan oleh banyak anak muda, termasuk Titin Sahra Melani. Ia mengungkapkan, “Aku lebih takut mati, sih, karena aku belum siap. Masih banyak hal yang ingin aku capai, eksplorasi, dan rasakan.” Pernyataan ini mencerminkan keresahan yang mungkin dialami banyak orang seusianya.
Kesadaran Titin terhadap kesehatan mulai tumbuh seiring refleksinya terhadap kebiasaan hidupnya yang selama ini kurang sehat. Ia mengakui sering melewatkan sarapan dan mengabaikan asupan nutrisi yang baik, yang sebenarnya penting bagi tubuhnya.
Ketakutan yang Menggerogoti Generasi Muda
Bagi banyak penggiat generasi Z, ketakutan akan kematian bukan satu-satunya beban. Selvi Anitha Lestari, misalnya, mengungkapkan ketakutannya terhadap kemiskinan, mengingat latar belakang keluarganya yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan.
“Takut miskin, sih, karena keluargaku merintis banget. Aku tidak mau keturunanku ngerasain apa yang aku rasain,” kata Selvi. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan tanggung jawab sosial yang dirasakan oleh beberapa anak muda.
Namun, di sisi lain, ia juga mengkhawatirkan kematian karena masalah kesehatan mental. “Aku takut mati konyol, karena depresi atau overthinking,” tuturnya. Ini adalah gambaran nyata dari kompleksitas kehidupan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini.
Kesadaran Kesehatan Mental dan Fisik di Kalangan Generasi Z
Pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik menjadi hal yang semakin diperhatikan. Selvi aktif menjaga pola hidup dengan menghindari makanan manis dan pedas yang dapat berdampak buruk bagi kesehatannya. Ia percaya, makanan yang sehat adalah investasi penting untuk masa depan.
Sebagian generasi muda, seperti Aliyyah Fayyaza Zulthany, menilai bahwa ketakutan akan kemiskinan dan masalah kesehatan tidak bisa dipisahkan. “Miskin itu rasanya seperti mati perlahan, karena akses kesehatan jadi terbatas,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan betapa kondisi ekonomi sangat mempengaruhi baik kesehatan mental maupun fisik. Ketidakstabilan ekonomi menjadi salah satu hal yang mengganggu ketenangan pikiran dan jiwa anak muda.
Refleksi dan Perubahan dalam Gaya Hidup Harian
Melihat situasi tersebut, banyak anak muda mulai merenungkan pola hidup mereka. Titin, yang sebelumnya kurang peduli dengan kesehatan, mengaku mulai memahami dampak kebiasaan buruknya setelah menjalani magang di kanal kesehatan.
“Aku nggak pernah sarapan, makan cuma dua kali sehari, jarang minum air putih, begadang terus. Combo maut, kan?” ungkapnya dengan nada bercanda. Namun, di balik candaannya, ada kesadaran akan pentingnya mengubah gaya hidup.
Ini adalah langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. Kesadaran ini tentu menjadi kunci bagi banyak anak muda untuk memperbaiki kebiasaan buruk mereka demi kesehatan yang lebih baik.
