Kawasan wisata alam Guci di Kabupaten Tegal baru-baru ini mengalami bencana banjir bandang yang merusak banyak fasilitas. Kejadian ini tidak hanya berdampak pada Infrastruktur, tetapi juga mempengaruhi wisatawan dan masyarakat lokal yang mengandalkan sektor pariwisata untuk mata pencaharian mereka.
Banjir bandang yang terjadi pada akhir Januari ini mengakibatkan kerusakan parah, termasuk hilangnya kolam air panas yang sudah menjadi ikon kawasan tersebut. Dari laporan yang diterima, tiga jembatan di area wisata juga putus, menghalangi akses bagi pengunjung dan warga.
Sesuai informasi yang beredar, aliran sungai Kali Gung yang mengalami peningkatan debit air secara tiba-tiba menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang. Suara gemuruh sebelum air meluap menjadi tanda bagi warga bahwa bencana akan segera menghampiri.
Dampak Banjir Bandang Terhadap Infrastruktur Wisata
Kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir bandang sangat parah, terutama pada fasilitas yang ada di Guci. Pancuran air panas, yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, tidak luput dari terjangan air yang membawa material lumpur dan pasir.
Pancuran 13, Pancuran Barokah, serta Pancuran Lima menjadi lokasi yang paling terdampak. Jembatan-gantung yang menghubungkan lokasi-lokasi ini juga tak mampu bertahan dan terpaksa hanyut dibawa arus.
Kerusakan ini tentunya mengakibatkan kerugian besar bagi pengelola wisata dan juga masyarakat setempat. Banyak wisatawan yang harus menunda perjalanan mereka karena akses jalan dan jembatan yang terputus.
Penyebab Terjadinya Banjir Bandang di Guci
Penyebab utama dari bencana ini adalah curah hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut membuat aliran sungai menjadi tak terkendali, sehingga air meluap dan mengakibatkan banjir bandang.
Warga setempat, Taufiq, menjelaskan bahwa pada sore hari sebelum banjir terjadi, hanya ada hujan biasa. Namun, suara gemuruh dari arah hulu sungai menunjukkan bahwa sesuatu yang lebih besar sedang mendekat.
Secara tiba-tiba, debit air naik drastis dan menjadi keruh, menandakan campuran pasir dan lumpur yang berbahaya. Pada dini hari, tinggi air bahkan mencapai sekitar 7 meter.
Upaya Penanggulangan Dari Pemerintah dan Relawan
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera bergerak untuk menanggulangi dampak bencana. Mereka berkoordinasi dengan relawan untuk melakukan pembersihan dan rekonstruksi fasilitas yang rusak.
Salah satu alat berat yang digunakan dalam proses ini juga ikut hanyut, menunjukkan betapa parahnya situasi yang dihadapi. Jembatan yang hancur menjadi prioritas utama untuk segera diperbaiki agar akses kembali terbuka.
Relawan turut berperan penting dalam membersihkan area yang terdampak, mengarahkan warga yang terdampak untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolektif untuk memulihkan kawasan wisata Guci ke kondisi semula.
