Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Tangerang Selatan, Deden Deni, mengungkapkan bahwa mereka akan memberikan pilihan kepada pelaku perundungan terkait proses pendidikan mereka. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan ke rumah korban perundungan, dalam upaya memberikan dukungan kepada keluarga yang berduka.
Dalam acara tersebut, Deden Deni turut mendampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Arifah Fauzi, untuk menyampaikan belasungkawa. Situasi yang terjadi di sekolah menimbulkan perhatian serius dari pihak berwenang dan masyarakat setempat.
Deden menegaskan bahwa proses hukum terkait kasus tersebut telah dimulai dan melibatkan sejumlah saksi. Mereka sudah dipanggil untuk memberikan keterangan, termasuk guru dan teman sekelas korban.
Penjelasan Tentang Proses Hukum yang Berjalan
Deden Deni juga menjelaskan bahwa kasus ini sudah dalam tahap penyelidikan kepolisian. Mereka telah melakukan pemeriksaan dengan melibatkan pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai insiden tersebut.
Pihak kepolisian, di bawah arahan Kapolres Tangsel, sudah memanggil dan memeriksa beberapa saksi kunci. Para saksi ini mencakup guru dan teman sekelas yang berada di tempat yang sama pada saat kejadian berlangsung.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengumpulkan bukti yang diperlukan untuk proses lebih lanjut. Adanya penanganan dari pihak berwenang diharapkan dapat memberikan keadilan bagi korban dan keluarga.
Kondisi Pelaku dan Dampak Emosional bagi Semua Pihak
Lebih lanjut, Deden Deni menyampaikan bahwa terduga pelaku diberi pilihan mengenai bagaimana mereka akan melanjutkan pendidikan setelah insiden tersebut. Pilihan ini diambil sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi emosional mereka yang juga terdampak dari situasi ini.
Pihak sekolah menyadari bahwa baik korban maupun pelaku berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dengan langkah ini, mereka berharap dapat meminimalkan dampak negatif yang mungkin dirasakan oleh semua pihak terkait.
Selain itu, Deden juga mengunjungi rumah orang tua terduga pelaku untuk memahami lebih dalam kondisi mereka. Hal ini menunjukkan kepedulian dari pihak sekolah dan dinas pendidikan terhadap semua aspek yang terkait dengan kasus ini.
Rincian Insiden Perundungan yang Terjadi di Sekolah
Insiden yang menimpa MH, siswa kelas 7 di SMPN 19 Ciater Serpong, terjadi pada 20 Oktober 2025. Korban mengalami perundungan yang menyebabkan luka serius setelah diduga dipukul menggunakan bangku besi di bagian kepala.
Kakak korban menjelaskan bahwa adiknya awalnya dirawat di rumah sakit swasta di kawasan Tangerang Selatan. Namun, akibat kondisinya yang memburuk, MH harus dipindahkan ke Rumah Sakit Fatmawati untuk perawatan yang lebih intensif.
Sayangnya, setelah satu minggu menjalani perawatan, MH dinyatakan meninggal dunia. Kejadian ini menambah keprihatinan masyarakat mengenai isu perundungan yang terus terjadi di berbagai institusi pendidikan.
