Insiden yang terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, menarik perhatian publik setelah video pengeroyokan seorang guru oleh sejumlah siswa viral di media sosial. Dalam kejadian tersebut, guru bernama Agus Saputra menghadapi situasi yang tidak terduga ketika mencoba menegur perilaku siswa di kelas.
Keadaan semakin memanas setelah Agus, yang sedang menjalankan tugas mengajar, mendengar seorang siswa mengeluarkan kata-kata kasar. Siswa tersebut tidak hanya lancang, tetapi juga menantang Agus, memicu serangkaian peristiwa yang berujung pada pengeroyokan di halaman sekolah.
Kejadian ini berlangsung pada Selasa (13/1) pagi, ketika Agus berusaha memperbaiki suasana di kelas. Ketika mendengar kata-kata tidak pantas, ia berusaha untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas tindakan tersebut.
Awal Terjadinya Insiden di Kelas Sekolah
Agus menjelaskan bahwa dia mendengar kata-kata kasar di kelas saat sedang mengajar. Saat akan menegur, situasi menjadi tidak terkendali ketika siswa malah menantangnya, terjadilah perdebatan yang meruncing. Setelah menantang Agus, salah satu siswa pun akhirnya mengakui perbuatannya.
Namun, alih-alih meminta maaf, siswa itu berupaya memberontak dengan sikap agresif. Hal ini memicu reaksi Agus, di mana dengan cepat ia menampar siswa tersebut sebagai bentuk respons refleks dan upaya untuk mengembalikan disiplin di kelas.
Kemudian, situasi semakin memburuk. Siswa-siswa lain di kelas merasa keberatan dengan tindakan Agus dan merasa bahwa mereka telah dihina, menciptakan ketegangan di antara guru dan murid.
Proses Mediasi yang Tidak Berjalan Lancar
Setelah insiden di kelas, para guru lainnya berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak. Dalam mediasi tersebut, Agus mengusulkan agar siswa yang tidak puas dapat membuat petisi jika ingin agar ia tidak lagi mengajar di kelas tersebut. Namun, siswa justru meminta Agus untuk meminta maaf kepada mereka.
Agus berpendapat bahwa kata-kata yang dilontarkannya selama mengajar bersifat motivasional, bukan mengejek. Dia menyatakan, “Kalau kita kurang mampu, jangan bertingkah macam-macam,” yang menurutnya merupakan bentuk motivasi untuk siswa.
Namun, siswa mengambil pernyataan tersebut secara negatif, menuduh Agus telah menghina salah satu dari mereka. Hingga akhirnya, mediasi berakhir tanpa solusi, menambah keruh suasana di sekolah.
Pengeroyokan dan Dampaknya Terhadap Guru
Usai mediasi, Agus melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru, tetapi saat itulah sekelompok siswa menyerangnya. Ia dikeroyok dan mengalami luka-luka akibat tindakan tersebut. Situasi semakin menegangkan saat Agus meraih celurit untuk membubarkan kerumunan siswa yang menyerangnya.
Agus pun melaporkan insiden tersebut kepada pihak berwenang, yaitu Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Dalam laporannya, ia berharap pihak dinas dapat menengahi persoalan ini sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.
Sementara itu, Agus mengaku mengalami memar di badan dan pipi akibat pengeroyokan tersebut. Kejadian ini menggambarkan sisi gelap dari dunia pendidikan yang seharusnya menjadi lingkungan yang aman dan mendukung bagi semua pihak.
